Free Mega Man Run Cursors at www.totallyfreecursors.com
EL Butar: PENGARUH MADZHAB PTRISTIK TERHADAP PEMIKIRAN FILSAFAT

Jumat, 16 November 2012

PENGARUH MADZHAB PTRISTIK TERHADAP PEMIKIRAN FILSAFAT


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui dari masa ke masa filsafat mengalami perkembangan mulai dari zaman yunani kuno, menuju abad pertengahan hingga pada zaman modern. Pada setiap zamannya, masing-masing memiliki karakteristik mengenai pemikiran filsafat. Seperti pada pertengahan abad yaitu pada masa patristik yang membicarakan tentang perlu tidaknya filsafat yunani oleh para pemimpi gereja pada saat itu.
Adapun istilah patristik tersebut berasal dari bahsa latin yaitu “peter” yang berarti bapak, maksudnya ialah para pemimpin gereja yang dipilih dari golongan atas atau para ahli pikir. Pada perjalanannya, masuklah peradaban yunani dikalangan mereka sehingga menimbulkan perbedaan pendapat para tokoh patristik mengenai filsafat yunani. Hal ini mewarnai corak kehidupan masyarakat pada saat itu. Seperti perbedaan pendapat para ahli pikir dalam menghadapi masalah perlu tidaknya filsafat yunani dalam penggunaan peraturan dan kebijaksanaan pengambilan keputusan yang ditetapkan. Sehingga muncullah dua pendapat yang berbeda, pertama golongan yang menolak sepenuhnya filsafat yuani karena dianggap bertentangan dengan wahyu ilahi dan golongan yang kedua yaitu menerima filsafat yunani sebagai kebijaksanaan yang diambil yang hanya mengambil metode (tata cara berpikirnya) saja.
Sikap tersebut diatas bahwa tokoh patristik dalam perjalanannya mengetahui kebenaran dipengaruhi oleh filsafat.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.                  Siapakah tokoh-tokoh yang termasuk ke dalam madzhab patristik?
2.                  Adakah perbedaan pemikiran antar madzhab madzhab patristik mengenai perlu tidaknya filsafat yunani?
3.                  Bagaimana pengaruh madzhab patristik terhadap pemikiran filsafat?
1.3  Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ialah:
1.                  Untuk mengetahui tokoh-tokoh patristik
2.                  Untuk mengetahui perbedaan pemikiran para tokoh patristik mengenai perlu tidaknya filsafat yunani
3.                  Untuk mengetahui pengaruh madzhab patristik terhadap pemikiran filsafat.

   


BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Tokoh-tokoh Madzhab Patristik
Melihat sejarah perkembangan filsafat pada abad pertengahan  sudah adanya filsafat yunani yang  mewarnai pemikiran-pemikiran madzhab patristic mengenai keimanan (kristiani). Pada zaman ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu  patristic yunani dan patristic latin. Patristik yunani berpusat di atena sedangkan  patristic latin berpusat di kota Roma.

 Pada saat itu para pemikir mazhab patristic merasa tergangu dengan danya para ahli filsapat yunani yang berasal dari penganut notisisme (gerakan keagaman yang berciri dua listik yang menggunakan sumber-sumber yahudi,keristiani dan kafir) sehingga para mazhab patristic berusaha untuk mempertahankan gagasan-gagasan dalam injil (pemurnian injil).[1] Dalam pemikiram madzhab patristic pada saat itu terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai penggunaan filsafat yunani. Sebagian berpendapat filsafat yunanitidak lagi perlu digunakan untuk mengetahui kebenaran Tuhan.

Adapun penjelasan mengenai patristic yunani dan patristic latin adalah sebagai berikut:
A.                Patristik Yunani (Patristic Timur)
Patristik yunani merupakan golongan pemuka agama Kristen yang mencoba membela iman Kristen dengan menolak adanya filsafat yunani. Mereka beranggapan bahwa filsafat yunani tidak lagi perlu digunakan karna mereka sudah mendapatkan sumber kebenaran yaitu firman Tuhan.[2] Mereka juga menganggap para filsuf yunani mengambil pokok ajarannya darikitab suci orang yahudi, yang bertentangan dengan agama Kristen karna mereka lebih menggunakan akal fikirannya (logos) dan keyakinan mereka sendiri dalam menetukan suatu hal  tanpa mengikuti aturan hukum Allah yang dianut oleh agam Kristen tersebut. Namun tidak semua tokoh madzhab-madzhab patristic menolak adanya filasfat yunani karna untuk mengetahui tuhan perlu pemikiran yang mendalam disamping dengan menggunakan iman Kristen.

Adapun tokoh-tokoh madzhab patristic adalah sebagai berikut:

1.                  Klemes
Klemens merupakan tokoh patristic yunani yang hidup pad tahun 150-215 M. Klemens merupakan tokoh pembela Kristen namun ia masih menerima filsafat sebagi metode dalam membela iman Kristen tersebut. Ia beranggapan bahwa dalam proses mengenal tuhan bukanlah dengan keyakinan irasional akan tetapi melalui disiplin pemikiran rasional.[3] Artinya dalam proses mengenl tuhan tidak hanya meyakini saja aknan tetapi dalam keyakinan tersebut diikuti dengan pemikiran secara rasional(logos) yaitu dengan pengetahuan yang tidak keluar dari aturan ajaran Kristen (iman Kristen), contohnya ketika kita meyakini adanya tuhan kita tidak hanya yakin akan tetapi harus ada tindak lanjut dari keyakinan tersebut dengan melakukan tindakan yang benar sesuai akal rasaional. Dalam pemikiran tersebut Klemens menggunakan filsafat sebagi metode untuk memahami iman Kristen secara mendalam.
2.                  Justinus Martir
Justinus martir merupakan tokoh patristic yang menentang keras adanya filsafat yunani. Justinus martir beranggapan bahwa filsafat yunani merupakan pemikiran yang ajarannya diambil dari kitab yahudi dengan menggunakan pemikiran (logos) orang-orang yunani sudah dipengaruhi oleh demon (setan), sehingga ajaran-ajaran murni (injil) dipalsukan.[4] Akan tetapi, orang-orang apologit (para pembela Kristen) dan justinus menggunakan filsafat yunani hanya sebagai pembanding antara kitab yang di pakai orang Kristen dengan kitab yang dipakai oleh orang yunani.
3.                  Origen
Pada awalnya origen sependapat dengan gurunya yaitu klemens bahwa tuhan itu transenden (suatu konsep dimana Tuhan tidak dapat dijangkau oleh akal rasional). Oleh sebab itulah kemudian origen beranggapan bahwa manusia akan dapat mengkaji tuhan melalui hasil penciptaan-Nya. Tetapi setelah menganalisis pendapat mengenai tuhan itu transenden, kemudian ia berpendapat bahwa iman tidak diperlukan oleh orang yang memiliki pengetahuan, karna iman dibutuhkan oleh orang awam yang tidak mampu memahami kitab suci secara mendalam.[5]
Dari penjelasan tersebut dapat dilihat adanya pertentangan antar iman dan pengetahuan, dimana menurutnya pengetahuan lebih tinggi tingkatannya dari iman. Karena denagn pengetahuan manusia dapat berfikir dan membedakan baik buruknya mengenai suatu hal dalam proses pencarian kebenaran dengan menggunakan akalnya, sehingga iman tidak diperlukan lagi. Contohnya dalam kitab mengatakan bahwa puasa itu baik (contoh iman). Tetapi melanjutkan dengan pengetahuan maka seseorang mencoba memebuktikan dengan cara mencari  tahu tentang puasa itu sendiri dan untuk lebih meyakinkan dirinya atas benar tidaknya kemudian orang tersebut melakukan puasa. Setelah proses pembuktian itu selesai dilaksanakan diperolehlah suatu kebenaran mengenai manfaat puasa.
Pada dasarnya seseorang menggunakan iman dalam meyakini adanya suatu  hal , namun dengan adanya perkembangan dalam proses berfikir untuk membuktikan kebenarannya, manusia menggunakan akalnya sehingga diperoleh pengetahuan yang lebih dan dijadikan sebagai tolak ukur dalam proses tersebut.
4.                  Gregorius dari Nyssa dan Gregorius Nazianze
Gregorius dari Nyssa berpendapat bahwa iman dan pengetahuan memiliki perbedaan yaitu isi dan sunbernya. Kepastian iman tidak dapat dijelaskan dengan akal karena pada dasarnya kepastian iman lebih tinggi dibandingkan dengan kepastian pengetahuan yang menggunakan akal.
Maksudnya ialah iman itu bersifat abstrak sehingga tidak sembarang orang dapat memahami atau mampu untuk mendefinisikannya, sedangkan pengetahuan yanng dengan akal umumnya berkaitan dengan hal-hal yang dapat dimengerti karena sifatnya alamiah (konkret). Meskipun demikian, pengetahuan dengan akal bisa digunakan untuk membela iman kristen karena pengetahuan tersebut dapat menjabarkan dan menghubungkan isi iman yang satu dengan yang lainnya serta memberikan kepastian tehadap adanya Tuhan yang menjadi dasar iman.
Contohnya ialah Tuhan, untuk mengetahui Tuhan kita tidak dapat mengetahui bagaimana Tuhan itu sendiri (bentuk dan dzatnya), akan tetapi kita dapat menafsirkan Tuhan melalui penciptaan-Nya seperti alam semesta ini.
Gregorius Nazinze berpendapat bahwa akal manusia pada diri sendiri dapat mengenal Tuhan, yaitu dengan mempelajari hasil penciptaan Allah misalnya alam semesta ini, dengan akalnya manusia tersebut mengetahui bahwa alam ini ada berdasarkan kehendak Tuhan, meskipun pada hakikkatnya dzat Tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia.[6]

B.                 Patristik Latin (Patristik Barat)
Sama halnya seperti patristik yunani, patristik latin pun merupakan pemuka agama kristen yang menolak adanya filsafat yunani karena ajaran filsafat yunani dianggap menyimpang dari ajaran iman kristen (injil) namun ada pula yang menerimanya. Tokoh-tokoh yang termasuk tokoh latin adalah sebagai berikut:
1.                  Tertullianus
Tertullianus merupakan tokoh patristik yang hidup pada tahun 160-222 M. Tertullianus beranggapan bahwa filsafat yunani tidak dibutuhkan karena semua ajaran untuk mendapatkan kebenaran sudah cukup dengan keterangan Masehi dan Injil. Ia juga menganggap bahwa para filosof banyak mengambil ajarannya dari pemikiran-pemikiran taurat akan tetapi mereka tidak mengakuinya.[7] Meskipun ia menolak adanya filsafat namun ia masih mentolerir penggunaan akal untuk mengenal Tuhan dan Jiwa. Maksudnya ialah dengan akal manusia dapat berfikir mengenai kebenaran keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya dengan mengetahui semua penciptaan-Nya.
2.                  Aurellius Agustinus
Aurellius Agustinus merupaka tokoh patristik yang hidup pada tahun 354-430 M. Ia beranggapan bahwa filsafat merupakan jalan yang dapat mengantarkan kepada kebenaran, akan tetapi tidak dapat sampai menemukan semua kebenaran.[8] Artinya, manusia tidak dapat menjangkau semua kebenaran mengenai adanya Tuhan karen akal manusia pada hakikatnya terbatas untuk mengetahui hal-hal yang sulit dijjangkau oleh fikirannya, seperti pertanyaan “Allah itu apa?”  yang kita ketahui hanyalah bahwa Allah itu tidak dapat dilihat oleh manusia kita hanya dapat meyakini bahwa Allah itu ada.
3.                  Dionosios
Dionisis berpendapat bahwa Allah adalah asal segala sesuatu yang ada, keadaannya transenden tidak mungkin memikirkan Dia dengan cara yang benar dan memberikan kepadanya nama yang tepat. Artinya, alam semesta beserta isinya ada karena Allah mencipttakan itu semua, namun keadaan Allah berada di luar alam yang sulit dijangkau oleh akal pikiran rasional. Menurutnya dalam memikirkan tentang Tuhan ada tiga cara yang saling mendukung, yaitu:
·                     Orang dapat secara positif menyebutkan segala hal yang baik yang terdapat di alam jagat raya ini untuk Allah.[9] Artinya dalam proses mengetahui Allah dalam mengaplikasikannya berjalan sesuai dengan yang terdapat dalam wahyu Tuhan dan semua itu ditujukan untuk Tuhan.
Contohnya ialah Injil, dimana di dalamnya berisi konsepan mengenai tujuan manusia kepada Tuhannya untuk beribadah sebagai aplikasi timbal balik atas yang telah Tuhan berikan kepada manusia (aplikasi rasa syukur).
·                     Orang dapat menyangkal bahwa segala yang baik yang ada pada Tuhan berada dengan cara yang sama seperti yang ada pada segala sesuatu di dalam jagat raya ini.[10] Artinya, sifat atau segala yang baik dari Tuhan itu ada dengan sendirinya tanpa kita harus memikirkan bagaimana proses adanya hal tersebut karena akal manusia tidak dapat menjangkau tentang itu. Sedangkan keberadaan alam ini karena ada yang mengadakan yaitu kehendak Tuhan.
Contohnya ialah Matahari, kita tidak tahu bagaimana proses penciptaannya dan kenapa matahari itu dapat memancarkan sinar dan panas, yang kita tahu hanyalah matahari diciptakan oleh Tuhan tanpa harus kita mengethui prosesnya.
·                     Orang dapat meneguhkan bahwa Tuhan itu sempurna melebihi segala kesempurnaan makhluk, yang keberadaannya dengan cara yang tidak dapat dimengerti melebihi segala  makhluk.[11] Artinya, akal pikiran manusia terbatas untuk mengetahuai asal usul adanya Tuhan.

C.                 Pengaruh Madzhab Patristik terhadap Pemikiran Filsafat
Dalam perkembangan pada masa patristik perdebatan masalah penggunaan filsafat yunani kerap terjadi karena pada saat itu dalam proses mencari kebenaran mengenai Tuhan para tokoh patristik mengambil metode yang digunakan oleh para filosof yunani dalam memikirkan sesuatu mengenai kebenaran dalam pencarian tentang Tuhan.
Melihat adanya pemikiran pada setiap tokoh patristik dalam menggunakan cara tersebut, sehingga hal ini berpengaruh besar pada pemikiran filsafat yang pada hakikatnya hampir semua tokoh menggunakannya untuk mengetahui semua hal tentang Tuhan selain dengan menggunakan iman, namun itu semua tidaklah mudah untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan sampai akarnya karena pemikiran manusia hanya bisa memikirkan adanya Tuhan melalui semua penciptaannya tanpa mengetahui wujud, sifat dan dzat Tuhan. Meski sifat Tuhan dan manusia memiliki kemiripan namun bukan berarti memiliki kemiripan yang sama persis artinya bukan pada esensinya karena walau bagaimana pun Tuhan di atas segalanya.
Kondisi tersebut berpengaruh pada gerakan-gerakan keagamaan dan pada pemikiran sekular seperti yang terjadi pada pemikiran Origen yang mengesampingkan iman. Hal tersebut dapat dilihat dari cara masing-masing madzhab dalam usaha melindungi keaslian kitab suci (Injil) yaitu seperti adanya pertarungan berbagai ideologi politik, adanya kesamaan dalam pandangan, dalam dogmatisme (bersifat mengikuti atau menjabarkan suatu agama tanpa kritik sama sekali) dan juga dalam fanatisme yang di dalamnya menghadapi konflik antar ideologi yang tidak dapat disatukan misalnya ideologi yang digunakan oleh filosof yunani dan para pembela iman kristen (golongan apologit). Sehinggga pengaruh tersebut menimbulkan sebuah revolusi dalam pemikiran berbagai tokoh patristik. Revolusi tersebut dapat dilihat dengan adanya penggunaan filsafat dalam proses mencari kebenaran tentang Tuhan.

  

BAB III

PENUTUP

3.1              Kesimpulan

Dari uraian yang terdapat pada bab pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

a.                   Pada zaman patristik terdapat perbedaan pendapat mengenai perlu tidaknya filsafat yunani dalam proses pencarian kebenaran tentang Tuhan. Ada golongan yang menolak sepenuhnya  filsfat yunani tersebut karena menurutnya untuk mengetahui kebenaran tentang Tuhan tidak perlu menggunakan filsafat yunani sebab itu dianggap sebagai pemikiran atau ide gagasan manusia saja. Sedangkan yang menerima filsafat yunani beralasan bahwa untuk membuktikan sumber kebenaran tidak hanya dari firman Tuhan saja tetapi juga diperlukan suatu pemikirang yang dipandang sebagai perbandingan bagi Injil.
b.                  Madzhab patristik membawa pengaruh bagi pemikiran filsafat bahwa adanya pandangan baru tentang gerakan-gerakan keagamaan dan pengaruhnya pada pemikiran sekular. Adanya perbedaan cara pandang mengenai ideologi-ideologi yang dicetuskan oleh para tokoh patristik, misalnya ialah terjadi pertentangan antar tokoh patristik yaitu golongan apologit (pembela iman kristen yang menolak keras adanya filsafat yunani) dengan kaum gnostik (kaum yang menggunakan ajaran filsafat yunani).
c.                   Pada dasarnya filsafat yunani digunakan oleh sebagian tokoh patristik tetapi dengan hanya mengambil metode berpikirnya saja, tanpa menggunakan atau menjalankan ajaran yang dibawa oleh filosof yunani tersebut.


[1] Gerald O’Collins, SJ  &  Edward G. Farrugia, SJ, Kamus Teologi,
[2] Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Metologisampai Teofilosofi, h. 137
[3]  Ibid, h.139
[4] Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, h.71
[5]  Muhammad afif bahaf, Filsafat umum pengantar kea lam fikiran filsafat dari zaman klasik sampai zaman modern, hal.81.
[6] Ibid, h.82
[7] Muhammad Afif  Bahaf, Filsafat..., Op.cit, h. 82
[8] Ibid, h. 83
[9] Ibid, h. 86
[10] Ibid
[11] Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar