Free Mega Man Run Cursors at www.totallyfreecursors.com
EL Butar: HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN DISIPLIN ILMU

Jumat, 16 November 2012

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN DISIPLIN ILMU


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada zaman dahulu filsafat hanya digunakan apabila adanya sebuah pertanyaan yang timbul, sehingga filsafat mampu menyelesaikan dengan menggunakan akal pemikiran mereka. Seiring dengan perjalanan waktu ternyata filsafat selalu berhubungan dengan disiplin ilmu. Menyebabkan filsafat menjadi induk dari berbagai ilmu pengetahuan karena adanya pertanyaan-pertanyaan itu akan terselesaikan oleh filsafat dengan menggunakan akal dan pikiran.
Filsafat selalu berhubungan dengan disiplin ilmu, seperti agama, antropologi, pendidikan, dan sosiologi. Antara filsafat dan disiplin ilmu tidak dapat dipisahkan karena adanya ketergantungan yang salig melengkapi dikeduanya. Karena disiplin ilmu akan mampu membuat pertanyaan yang dipertanyakan dan memberikan jawaban bagi pertanyaan para filosof yang meyakinkan.
Karena itu hubungan antara filsafat dengan berbagai disiplin ilmu (agama, sosiologi, antropologi, dan pendidikan) sangat diperlukan karena akan menimbulkan keteraturan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan dalam berfilsafat.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa hubungan antara filsafat dengan pendidikan ?
2.      Apa Hubungan antara filsafat dengan antropologi ?
3.      Apa hubungan antara filsafat dengan agama ?
4.      Apa hubungan antara filsafat dengan sosiologi ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.                 Hubungan Filsafat dengan Pendidikan                
Dalam arti sempit pendidikan adalah seluruh kegiatan belajar yang direncanakan dengan materi terorganisasi, dengan meteri terorganisasi, dilaksanakan secara terjadwal dalam system pengawasan dan diberikan evaluasi berdasarkan pada tujuan yang telah ditentukan.[1]
Dalam arti luas pendidikan adalah segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam situasi kegiatan kehidupan, yang berlangsung di segala jenis bentuk dan tingkat linkungan hidup yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada didalam diri individu.[2]
Sedangkan filsafat adalah kerangka pemikiran manusia yang dilakukan untuk menemukan suatu kebenaran dari segala hal yang ada maupun yang tidak ada secara mengakar dan mendalam. Dan filsafat dapat dikatakan sebagai induk semua bidang study dan disiplin ilmu pengetahuan, dengan sudut pandang yang bersifat komprehensif berupa hakikat, artinya filsafat memandang setiap objek dari segi hakikatnya.
Jawaban bagi persoalan filsafat adalah manusia harus bersikap dan berprilaku adil terhadap diri sendiri, masyarakat, dan terhadap alam.[3] Agar bisa berbuat demikian manusia harus berusaha mendapatkan pengetahuan yang benar dari tentang keberadaan segala sesuatu yang ada, dari mana asalnya, bagaimana keberadaanya, dan apakah yang menjadi tujuan akhir keberadaanya. Oleh karena itu, manusia harus mendidik diri sendiri dan sesamanya secara terus-menerus. Setelah itu muncullah pendidikan dan memulai segala sesuatunya, manusia mencoba mendidik dirinya dan sesamanya dengan cara menumbuhkan kesadaran eksistensi kehidupan.[4] Dalam hal ini, kegiatan pendidikan ditekankan pada pengetahuan umum berupa asal usul, eksistensi, dan tujuan kehidupan yang dijadikan landasan dasar bagi prilaku sehari-hari sehingga eksistensi kehidupan berjalan secara teratur di dalam tujuan akhir.
Keterkaitan antara filsafat dengan pendidikan adalah timbulnya suatu masalah itu berasal dari filsafat, dengan pendidikan kita mampu menyelesaikan suatu masalah yang ditimbulkan dari filsafat itu sendiri. Bagi filsafat, pendidikan mampu membangun pandangan hidup yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari dan untuk kehidupan nanti sehingga akan adanya keteraturan dan keadilan dalam menjalani kehidupan. Bagi pendidikan, filsafat memberikan kontribusi yang berupa kesadaran yang menyeluruh tentang asal-mula, eksitensi, dan tujuan kehidupan manusia.[5] Tanpa filsafat pendidikan tidak akan bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan oleh pendidikan tersebut tanpa sebelumnya ada suatu filsafat yang ditimbulkan. Sebaliknya, tanpa pendidikan filsafat tetap berada di dalam dunianya sendiri tanpa sebelumnya ada sesuatu yang menarik keluar filsafat itu.
Hubungan antara filsafat dengan pendidikan melahirkan satu kesatuan pengertian baru yaitu filsafat pendidikan. Dalam arti luas bahwa filsafat pendidikan adalah pemikiran-pemikiran filsafat tentang bagaimana suatu proses dan cara-cara  pendidikan dilakukan . Pengertian  lain mengatakan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat tentang proses pendidikan atau filsafat tentang disiplin ilmu pendidikan ( The philosophy of the discipline of education).
Manfaat Mempelajari Antara Filsafat Pendidikan
Kemudian setelah terjalin hubungan antara filsafat dan pendidikan dengan baik maka didapatkan beberapa hal, yaitu:
1)            Mengembangkan dan memperdalam hasil filsafat para filosof dimasa lalu
2)            Mengembangkan cara pemikiran dalam berfilsafat untuk menemukan sesuatu yang baru dan mencari suatu kebenaran yang sebenarnya.
3)            Memperluas pemahaman mengenai pemikiran yang telah difilsafatkan.
4)            Mengetahui bagaimana cara menyelidiki suatu masalah dengan cara yang efektif dan akurat. 
B.                  Hubungan Filsafat dengan Antropologi
Dari pengertianya antropologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang menyelidiki seluk beluk, asal-mula manusia, dan kebudayaan yang terjadi di kehidupan masa lalu.
Hubungan filsafat dengan manusia melahirkan filsafat manusia, dimana filsafat ini adalah bagian integral dari system filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Jadi, mempelajari filsafat manusia adalah upaya untuk mencari dan menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu?
Secara metodis ia mempunyai kedudukan yang sama dengan cabang-cabang filsafat lainnya. Secara ontologis, ia mempunyai kedudukan yang relatife lebih penting karena semua cabang filsafat bermuara kepada persoalan yang mengenai esensi manusia.[6]
Keterkaitan antara keduanya adalah bahwa tanpa adanya antropologi (kehidupan manusia) filsafat takkan ditemukan dan takkan berkembang seperti saat ini.  Bagi filsafat yang menjadi subjek dan objek filsafat adalah manusia karena manusia sebagai pemikir dan yang dipikirkan. Hubungan ini harus berjalan secara lurus, adanya filsafat karena adanya kehidupan manusia danadanya hasil pemikiran berarti ada yang memikirkan (subjek).
Memang sulit mencari asal-usul atau seluk-beluk manusia dengan menggunakan filsafat karena ini memikirkan keadaan kita sendiri dan lingkungan yang dijalani yang terkadang suatu keraguan dari hasil pemikiran-pemikiran tersebut yang semuanya tidak menghasilkan kebenaran yang mendalam dan mengakar.
Filsafat dan antropologi adalah hubungan yang paling awal dari hubungan filsafat dengan lainnya.
Ciri-ciri Filsafat Manusia
·                     Ekstensif, yakni dapat dilihat dari luasnya jangkauan atau menyulurhnya objek kajian yang digeluti oleh filsafat ini, filsafat manusia tidak menyoroti aspek-aspek tertentu dari gejala dan kejadian manusia secara terbatas.[7] Ini berarti bahwa filsafat manusia mencakup segenap aspek dan ekspresi manusia dan lepas dari konteks kualitas ruang dan waktu (universal), karena itu ia tidak mungkin bisa mendeskripsikan semuanya itu secara rinci dan detail hanya secara garis besar saja.
·                     Intensif, yakni bersifat mendasar dengan menggali inti, esensi dan akar yang melandasi segala kenyataan.[8] Artinya filsafat manusia hendak mencari inti, esensi dan akar yang dilandasi atas kenyataan manusia baik yang tampak maupun yang tidak pada setiap gejala kehidupan sehari-hari.
·                     Kritis, yakni ketidakpuasan para filosof pada pengetahuan yang mengenai tentang manusia.[9] Dimana para filosof terus mempertanyakan dan mencari hakikat keberadaan manusia di dunia ini.
Manfaat Mempelajari Filsafat Antropologi
1.                  Secara praktis, mengetahui tentang apa atau siapa manusia dalam keutuhannya, serta mengetahui tentang apa dan siapa diri kita ini dalam pemahaman tentang manusia tersebut.
2.                  Secara Teoritis, untuk meninjau secara kritis beragam asumsi-asumsi yang berada dibalik teori-teori dalam ilmu-ilmu tentang manusia. Dimana seseorang akan menyadari dan memahami tentang kompleksitas manusia yang takkan pernah habis untuk selalu dipertanyakan tentang makna dan hakikatnya, sehingga menghindari seseorang dari sikap sempit dan tinggi hati dan manusia dapat mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat diri manusia tersebut.[10]
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa keadaan filsafat berkembang berkat manusia dan keadaan kehidupannya. Yang mana saling berkaitan antara filsafat dan ilmu antropologi yakni perkembangannya hingga kini makin berkembang seiring kehidupan.
C.                Hubungan Antara Filsafat dengan Agama
 Pada hakikatnya, hubungan filsafat dan agama menjadikan keduanya satu kesatuan, yakni filsafat agama dimana ilmu ini memikirkan tentang pemikiran filsafat tentang agama. Baik agama maupun filsafat pada dasaranya mempunyai kesamaan, yakni sama-sama mencapai kebenaran yang sejati. Bagi filsafat menerima suatu hal kebenaran bukanlah dari kepercayaan, melainkan penyelidikan dari sendiri atau hasil pikiran belaka. Terdapat pula perbedaan diantaranya, bahwa dalam agama ada beberapa hal yang penting misalnya tuhan, kebajikan, baik dan buruk, surga dan neraka dan hal tersebut yang dijadikan penyelidikan oleh filsafat karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada.[11] Agama yang dimaksud disini adalah agama yang diwahyukan tuhan pada nabi dan rasulnya. Untuk itu, filsafat tidak mengingkari atau mengurangi adanya wahyu.
Pada dasarnya antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan karena apabila kedua-duanya mengandung kebenaran maka kebenaran itu satu dan tentu sama.[12] Pada dasaranya filsafat dan agama dalam beberapa hal mungkin sama akan tetapi dasarnya berlainan. Filsafat berdasarkan fikiran belaka dan agama berdasarkan wahyu illahi. Dalam filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakiki, manusia harus mencarinya sendiri dengan menggunakan alat yang dimilikinya baik lahir dan bathin. Sedangkan dalam agama, untuk mendapatkan kebenaran hakiki manusia tidak hanya mencarinya sendiri, melainkan ia harus menerima hal-hal yang diwahyukan tuhan. Walaupun kebenaran yang dipaparkan oleh agama mungkin serupa dengan filsafat namun tetap agama tidak dapat disamakan dengan filsafat, karena adanya perbedaan dalam cara pandang.[13] Di sisi lain agama berdasarkan kepercayaan, disisi lain pula, filsafat berdasarkan penelitian dengan mennggunakan potensi manusiawi dan meyakini bahwa alat ukur kebenaran adalah akal manusia. Dimana filsafat agama menerangkan masalah agama secara filosofis. Agama yang dimaksud tidak terikat pada suatu macam agama melainkan pada seluruh agama. Tugas filsafat agama adalah membahas tentang peranan agama bagi manusia yang ditinjau dari sudut filosofis bukan dari sudut ajaran dan wahyu yang terdapat pada agama tertentu.
Persamaan antara Filsafat dengan Agama, yakni:
1.         Filsafat maupun agama merupakan sumber atau wadah kebenaran ( objektifitas) atau bnetuk pengetahuan
2.         Dalam pencarian kebenaran keduanya mempunyai metode, system dan mengolah objeknya dengan selengkapnya sampai mendalam.
3.         Agama bertujuan untuk kebahagiaan umat manusia dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak baik mikrokosmos, makrokosmos, maupun Tuhan. Filsafat bertujuan mencari kebenaran tentang mikrokosmos, maakrokosmos dan eksistensi Tuhan.[14]

Perbedaan antara Filsafat dengan Agama, yakni:
1.         Sumber kebenaran filsafat adalah dari manusia itu sendiri dalam arti pikiran pengalaman dan intuisinya. Sumber kebenaran agama adalah dari Allah, karena itu disebut juga bersifat vertical.
2.         Pendekatan kebenaran filsafat dengan jalan perenungan dari akal manusia secara radikal, sistematis, dan universal tanpa pertolongan dan bantuan dari wahyu Allah. Pendekatan kebenaran agama dengan jalan melihat kepada wahyu Allah yang berada dalam kitab suci Al-qur’an, Taurat, dan Injil.
3.         Sifat kebenaran filsafat adalah spekulatif, yaitu yang bersifat pendugaan yang mengakar menyeluruh dan universal. Dimana timbul keraguan setelah itu yakin dan kemudian ragu kembali dan timbul pertanyaan lagi untuk mencari jawaban yang mendalam. Sifat kebenaran agama adalah mutlak karena bersumber dari Allah. Dimana dimulai dengan keimanan dan keyakinan setelah itu iman dan keyakinan mnyelidiki kebenaran yang mutlak setelah yakin atas hasil penyelidikan tersebut maka terjadilah penndalaman keimanan dan keyakinan yang disebut taqwa.
4.         Tujuan filsafat ialah kecintaan kepada pengetahuan yang bijaksana dengan hasil kedamaian dan kepuasan jiwa yang sedalam-dalamnya. Tujuan agama adalah kedamaian, keharmonisan, kebahagiaan, keselarasan, keridhoan.[15]
D.                Hubungan Antara Filsafat dan Sosiologi
Sosiologi ilmu adalah sebuah disiplin yang secara teoritis berusaha menganalisis kaitan antara pengetahuan dengan kehidupan dengan secara metedologis beruapaya menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu dalam perkembangan intelektual manusia.[16] Disiplin ini dirintis oleh Max Scheler dan diperkokoh oleh Karl Manheim.
Sosiologi merupakan cabang ilmu social yang dahulunya berinduk pada ilmu filsafat, dengan demikian pokok-pokok pikiran sosiologi tidak bisa terlepas dari pemikiran dari para ahli filsafat yang mengkaji tentang hehidupan manusia.
Sudah menjadi sifat bawaannya, bahwa sosiologi sejak berkembang hingga dewasa ini menjadi disiplin yang berdiri sendiri yang selalu berada dalam suasana pergulatan,pemikiran dikalangan tokoh-tokohnya. Sosiologi lahir di tengah-tengah persaingan antara filsafat dan psikologi.
Dengan demikian, keterkaitan antara sosiologi dan filsafat adalah bahwa sosiologi memberikan informasi yang cukup tentang adanya keterkaitan antara proses keilmuan tertentu dengan faktor-faktor lain diluar keilmuan, misalnya ideology, tradisi keagamaan, otoritas politik, ekonomi dan lain-lain.[17]Dimana kita mengetahui pada zaman thales yakni ketika dia berhenti di wilayah mesir, dia melihat keadaan masyarakat dimana mereka semua sangat membutuhkan air. Dari situlah muncul pernyataan dia bahwa air adalah sesuatu yang penting dari segala sesuatu setelah dia melihat keadaan wilayah tersebut. Inilah yang menjadikan filsafat sangat berhubungan dengan sosiologi.









BAB III
KESIMPULAN
Filsafat adalah cara berfikir manusia dengan menggunakan akal atau pikiran manusia untuk menjawab mengenai suatu masalah yang penyelidikannya sampai kepada yang mendalam dan mengakar dari persoalan itu. Sedangkan disiplin ilmu adalah berbagai macm ilmu pengetahuan yang didalamnya diajarkan berbagai macam suatu ilmu yang dapat mengembangkan individu menjadi lebih berawawasan dan memiliki semangat keilmuan yang tinggi untuk kemajuan suatu bangsa dan Negara.
Antara filsafat dengan disiplin ilmu saling berhubungan satu sama lain, tanpa disiplin ilmu mka tidak aka nada filsafat. Hubungan antara keduanya sangat erat dan kini menjadi ilmu yang sangat berpengaruh dalam dunia.
Karena banyaknya pertanyaan yang timbul dari berbagai ilmu pengetahuan, maka dengan filsafat mereka dapat menjawab peertanyaan tersebut. Dan filsafat semakin berkembangberkat adanya berbagai disiplin ilmu. Karena kini filsafat dijadikan sebagai induk dari berbagai ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa filsafat dan disiplin ilmu baik dengan antropologi, pendidikan, agama, dan sosiologi tidak bisa dipisahkan atau masing-masing disiplin ilmu saling memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya, karena fungsi antar disiplin ilmu saling melengkapi dalam hal materi keilmuan dan diseluruh dunia akan mendapatkan keteraturan serta menjadi pegangan hidup bagi manusia dimasa depan.






DAFTAR PUSTAKA

·            Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat. Cet.3. Bandung: PT. Remaja rosdakarya offset
·            Bakhtiar, Amsal. 1997. Filsafat Agama 1. Jakarta: PT. LOGOS wacana Ilmu
·            Muslih, Mohammad. 2006. Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan Cet.3. Jogjakarta: Belukar
·            Prasetyo. 2002. Filsafat Agama. Cet. 3. Bandung: Pustaka Setia.
·            Salam, Burhanudin. 2003. Pengantar Filsafat. Cet. 5. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
·            S. Praja, Juhaya. 2008. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Cet.3. Jakarta: kencana. 
·            Suhartono,Suparlan.2007. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.


[1] Suparlan Suhartono. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.hal 84
[2] Ibid. hal 79-80
[3] Ibid. hal 108
[4] Ibid. hal 108
[5] Ibid. hal 109
[6] Zainal Abidin. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hal 3
[7] Ibid. hal 10
[8] Ibid. hal 11
[9] Ibid. Hal 13
[10]Ibid.. Hal 15-17
[11] Juhaya S. Praja. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Kencana hal 15
[12] Ibid.hal 15
[13] Ibid.hal 16
[14] Drs. Burhanudin Salam. Pengantar Filsafat. Jakarta : BUmi Aksara Cet.5 hal 184
[15] Ibid. hal 184-185
[16] Muhammad Muslih. Filsafat Ilmu. Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. 2004. Yogyakarta: Belukar. Hal 22
[17]Ibid. Hal 23

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar